Artiperkata surat an najm ayat 39-42 - 11333566 LiiaHkmaa4180 LiiaHkmaa4180 31.07.2017 B. Arab Sekolah Menengah Pertama terjawab Arti perkata surat an najm ayat 39-42 1 Lihat jawaban Iklan 3. mengapa al quran disebut sebagai obat ynag bermanfaat untuk hati? Al‘Alaq: 1-5). [2] Yakni yang menciptakan semua makhluk. Pada ayat selanjutnya disebutkan secara khusus manusia di antara sekian ciptaan-Nya. [3] Oleh karena itu, yang telah menciptakan manusia dan memperhatikannya dengan mengurusnya, tentu akan mengaturnya dengan perintah dan larangan, yaitu dengan diutus-Nya rasul dan diturunkan-Nya kitab. YakniTafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir, Fi Zilalil Quran, dan Tafsir Al Azhar. Isi kandungan ini juga telah dimuat di WebMuslimah dalam judul Isi Kandungan Surat An Najm Ayat 39-42. 1. Manusia hanya akan mendapatkan pahala dari apa yang ia amalkan, bukan apa yang diamalkan orang lain tanpa keterlibatan atau usahanya. 2. اِنَّآاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa’budillāha mukhliṣal lahud-dīn Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. AlQur’an secara tegas memberi dorongan kepada umat Islam agar memiliki etos kerja tinggi, untuk tampil sebagai pekerja keras dan berprestasi. Untuk menggapai keberuntungan hidup, tidaklah hanya cukup tenggelam dalam masalah ritual formal (ibadah mahdhah). Tetapi hendaknya dimanifestaasikan dalam ibadah aktual. 3. Al-Qur'an Surat At-Taubah Whoremember Allah while standing or sitting or [lying] on their sides and give thought to the creation of the heavens and the earth, [saying], "Our Lord, You did not create this aimlessly; exalted are You [above such a thing]; then protect us from the punishment of the Fire. 21 Israil adalah sebutan bagi Nabi Ya’qub A.s., Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub A.s. dan sekarang mereka dikenal dengan nama bangsa Yahudi. 22. Di antara janji Bani Israil kepada Allah ialah hanya menyembah Allah, tidak mengadakan tandingan bagi Allah, serta beriman kepada Nabi Muhammad Saw. sebagaimana yang tersebut di dalam AnNajm : 39-42) Kandungan Al-Qur’an Surat An-Najm Ayat 39-42. Melalui ayat ini Allah Swt. berjanji akan memberi balasan sempurna kepada orang yang mau berusaha keras. Setiap usaha atau ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan hidup hendaknya ViyXw. تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ Tanzīlul-kitābi minallāhil-azīzil-ḥakīmi. Diturunkannya Kitab Al-Qur’an ini berasal dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fabudillāha mukhliṣal lahud-dīna. Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab Al-Qur’an kepadamu Nabi Muhammad dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ Alā lillāhid-dīnul-khāliṣu, wal-lażīnattakhażū min dūnihī auliyā'a, mā nabuduhum illā liyuqarribūnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifūna, innallāha lā yahdī man huwa kāżibun kaffārun. Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih dari syirik. Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, “Kami tidak menyembah mereka, kecuali berharap agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar. لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ Wa lau arādallāhu ay yattakhiża waladal laṣṭafā mimmā yakhluqu mā yasyā'u, subḥānahū, huwallāhul-wāḥidul-qahhāru. Seandainya Allah hendak mengambil makhluk-Nya sebagai anak, pasti akan memilih yang Dia kehendaki dari apa yang Dia ciptakan. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اَلَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ Khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqqi, yukawwirul-laila alan-nahāri wa yukawwirun nahāra alal-laili wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara, kulluy yajrī li'ajalim musammān, alā huwal-azīzul-gaffāru. Dia Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak yang benar. Dia menutupkan malam atas siang, menutupkan siang atas malam, serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Ketahuilah, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنْۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ فَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ Khalaqakum min nafsiw wāḥidatin ṡumma jaala minhā zaujahā wa anzala lakum minal-anāmi ṡamāniyata azwājin, yakhluqukum fī buṭūni ummahātikum khalqam mim badi khalqin fī ẓulumātin ṡalāṡin, żālikumullāhu rabbukum lahul-mulku, lā ilāha illā huwa, fa'annā tuṣrafūna. Dia menciptakanmu dari jiwa yang satu Adam, kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu. Dia menciptakanmu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang berbuat demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pemilik kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia. Mengapa kamu dapat berpaling dari kebenaran? اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۗوَلَا يَرْضٰى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَۚ وَاِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ In takfurū fa'innallāha ganiyyun ankum, wa lā yarḍā liibādihil-kufra, wa in tasykurū yarḍahu lakum, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marjiukum fa yunabbi'ukum bimā kuntum tamalūna, innahū alīmum biżātiṣ-ṣudūri. Jika kamu kufur, sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu. Dia pun tidak meridai kekufuran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian, kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada. ۞ وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهٗ مُنِيْبًا اِلَيْهِ ثُمَّ اِذَا خَوَّلَهٗ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُوْٓا اِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلّٰهِ اَنْدَادًا لِّيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيْلًا ۖاِنَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّارِ Wa iżā massal-insāna ḍurrun daā rabbahū munīban ilaihi ṡumma iżā khawwalahū nimatan minhu nasiya mā kāna yadū ilaihi min qablu wa jaala lilllāhi andādal liyuḍilla an sabīlihī, qul tamatta bikufrika qalīlān, innaka min aṣḥābin-nāri. Apabila ditimpa bencana, manusia memohon pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali taat kepada-Nya. Akan tetapi, apabila Dia memberikan nikmat kepadanya, dia lupa terhadap apa yang pernah dia mohonkan kepada Allah sebelum itu dan dia menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya. Katakanlah Nabi Muhammad, “Bersenang-senanglah dengan kekufuranmu untuk sementara waktu! Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ Amman huwa qānitun ānā'al-laili sājidaw wa qā'imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjū raḥmata rabbihī, qul hal yastawil-lażīna yalamūna wal-lażīna lā yalamūna, innamā yatażakkaru ulul-albābi. Apakah orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada azab akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah Nabi Muhammad, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui hak-hak Allah dengan orang-orang yang tidak mengetahui hak-hak Allah?” Sesungguhnya hanya ululalbab orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ Qul yā ibādil-lażīna āmanuttaqū rabbakum, lil-lażīna aḥsanū fī hāżihid-dun-yā ḥasanahtun, wa arḍullāhi wāsiahtun, innamā yuwaffaṣ-ṣābirūna ajrahum bigairi ḥisābin. Katakanlah Nabi Muhammad, “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan. قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ Qul innī umirtu an abudallāha mukhliṣal lahud-dīna. Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. وَاُمِرْتُ لِاَنْ اَكُوْنَ اَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ Wa umirtu li'an akūna awwalal-muslimīna. Aku diperintahkan untuk menjadi orang pertama dari umatnya yang berserah diri kepada Allah.” قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ Qul innī akhāfu in aṣaitu rabbī ażāba yaumin aẓīmin. Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar kiamat jika aku durhaka kepada Tuhanku.” قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْۚ Qulillāha abudu mukhliṣal lahū dīnī. Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan mengikhlaskan ketaatanku kepada-Nya.” فَاعْبُدُوْا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ Fabudū mā syi'tum min dūnihī, qul innal-khāsirīnal-lażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmahti, alā żālika huwal-khusrānul-mubīnu. Maka, sembahlah sesukamu selain Dia wahai orang-orang musyrik! Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. لَهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۗذٰلِكَ يُخَوِّفُ اللّٰهُ بِهٖ عِبَادَهٗ ۗيٰعِبَادِ فَاتَّقُوْنِ Lahum min fauqihim ẓulalum minan-nāri wa min taḥtihim ẓulalun, żālika yukhawwifullāhu bihī ibādahū, yā ibādi fattaqūni. Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawah mereka pun ada lapisan-lapisan pula. Demikianlah Allah membuat takut hamba-hamba-Nya dengan azab itu. “Wahai hamba-hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku!” وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ Wal-lażīnajtanabuṭ-ṭāgūta ay yabudūhā wa anābū ilallāhi lahumul-busyrā, fabasysyir ibādi. Orang-orang yang menjauhi tagut, yaitu tidak menyembahnya dan kembali bertobat kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ Allażīna yastamiūnal-qaula fa yattabiūna aḥsanahū, ulā'ikal-lażīna hadāhumullāhu wa ulā'ika hum ulul-albābi. Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab orang-orang yang mempunyai akal sehat. اَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِۗ اَفَاَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِى النَّارِ ۚ Afaman ḥaqqa alaihi kalimatul-ażābi, afa'anta tunqiżu man fin-nāri. Maka, apakah engkau, Nabi Muhammad, hendak mengubah nasib orang-orang yang telah dipastikan mendapat azab? Apakah engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam neraka? لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِّنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَّبْنِيَّةٌ ۙتَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ وَعْدَ اللّٰهِ ۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ الْمِيْعَادَ Lākinil-lażīnattaqau rabbahum lahum gurafum min fauqihā gurafum mabniyyahtun, tajrī min taḥtihal-anhāru, wadallāhi, lā yukhlifullāhul-mīāda. Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya bagi mereka kamar-kamar di surga, di atasnya terdapat kamar-kamar yang dibangun bertingkat-tingkat, dan mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah janji Allah. Allah tidak akan mengingkari janji. اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَلَكَهٗ يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ࣖ Alam tara annallāha anzala minas-samā'i mā'an fasalakahū yanābīa fil-arḍi ṡumma yajaluhū ḥuṭāmān, ina fī żālika lażikrā li'ulil-albābi. Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia mengalirkannya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian, dengan air itu Dia tumbuhkan tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian ia menjadi kering, engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian Dia menjadikannya hancur berderai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi ululalbab. اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖ ۗفَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ Afaman syaraḥallāhu ṣadrahū lil-islāmi fahuwa alā nūrim mir rabbihī, fawailul lil-qāsiyati qulūbuhum min żikrillāhi, ulā'ika fī ḍalālim mubīnin. Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk menerima agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang hatinya membatu? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ Allāhu nazzala aḥsanal-ḥadīṡi kitābam mutasyābiham maṡāniya, taqsyairru minhu julūdul-lażīna yakhsyauna rabbahum, ṡumma talīnu julūduhum wa qulūbuhum ilā żikrillāhi, żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā'u, wa may yuḍlilillāhu famā lahū min hādin. Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, yaitu Kitab Al-Qur’an yang serupa ayat-ayatnya lagi berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk. اَفَمَنْ يَّتَّقِيْ بِوَجْهِهٖ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗوَقِيْلَ لِلظّٰلِمِيْنَ ذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْسِبُوْنَ Afamay yattaqī biwajhihī sū'al-ażābi yaumal-qiyāmahti, wa qīla liẓ-ẓālimīna żūqū mā kuntum taksibūna. Apakah orang yang menghindari azab yang buruk dengan wajahnya pada hari Kiamat sama dengan orang mukmin yang tidak kena azab? Dikatakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah balasan apa yang telah kamu kerjakan.” كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَاَتٰىهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُوْنَ Każżabal-lażīna min qablihim fa'atāhumul-ażābu mi ḥaiṡu lā yasyurūna. Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan rasul-rasul, datanglah azab kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari. فَاَذَاقَهُمُ اللّٰهُ الْخِزْيَ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚوَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ Fa ażāqahumullāhul-khizya fil-ḥayātid-dun-yā, wa laażābul-ākhirati akbaru, lau kānū yalamūna. Maka, Allah menimpakan kepada mereka kehinaan dalam kehidupan dunia. Sungguh, azab akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui-nya. وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَۚ Wa laqad ḍarabnā lin-nāsi fī hāżal-qur'āni min kulli maṡalil laallahum yatażakkarūna. Sungguh, Kami benar-benar telah membuatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran. قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِيْ عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ Qur'ānan arabiyyan gaira żī iwajil laallahum yattaqūna. Yaitu Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya agar mereka bertakwa. ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيْهِ شُرَكَاۤءُ مُتَشٰكِسُوْنَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ۗبَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ Ḍaraballāhu maṡalar rajulan fīhi syurakā'u mutasyākisūna wa rajulan salamal lirajulin hal yastawiyāni maṡalān, al-ḥamdu lillāhi, bal akṡaruhum lā yalamūna. Allah membuat perumpamaan, yaitu seorang laki-laki hamba sahaya yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat, tetapi dalam perselisihan dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh seorang saja. Apakah keduanya sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui-nya. اِنَّكَ مَيِّتٌ وَّاِنَّهُمْ مَّيِّتُوْنَ ۖ Innaka mayyituw wa innahum mayyitūna. Sesungguhnya engkau Nabi Muhammad akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati. ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُوْنَ ࣖ ۔ Ṡumma innakum yaumal-qiyāmati inda rabbikum takhtaṣimūna. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu. ۞ فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ اِذْ جَاۤءَهٗۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكٰفِرِيْنَ Faman aẓlamu mimman każaba alallāhi wa każżaba biṣ-ṣidqi iż jā'ahū, alaisa fī jahannama maṡwal lil-kāfirīna. Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahanam terdapat tempat tinggal bagi orang-orang kafir? وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ Wal-lażī jā'a biṣ-ṣidqi wa ṣaddaqa bihī ulā'ika humul-muttaqūna. Orang yang membawa kebenaran Nabi Muhammad dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ ذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْمُحْسِنِيْنَۚ Lahum mā yasyā'ūna inda rabbihim, żālika jazā'ul-muḥsinīna. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. لِيُكَفِّرَ اللّٰهُ عَنْهُمْ اَسْوَاَ الَّذِيْ عَمِلُوْا وَيَجْزِيَهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ الَّذِيْ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ Liyukaffirallāhu anhum aswa'al-lażī amilū wa yajziyahum ajrahum bi'aḥsanil-lażī kānū yamalūna. Demikian itu agar Allah menghapus dosa perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang dahulu mereka kerjakan. اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ وَيُخَوِّفُوْنَكَ بِالَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍۚ Alaisallāhu bikāfin abdahū, wa yukhawwifūnaka bil-lażīna min dūnihī, wa may yuḍlilillāhu famā lahū min hādin. Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan selain Dia. Siapa yang Allah biarkan sesat tidak ada satu pun yang memberi petunjuk kepadanya. وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّضِلٍّ ۗ اَلَيْسَ اللّٰهُ بِعَزِيْزٍ ذِى انْتِقَامٍ Wa may yahdillāhu famā lahū min muḍillin, alaisallāhu biazīzin żintiqāmin. Siapa yang Allah tunjuki tidak satu pun yang menyesatkannya. Bukankah Allah Mahaperkasa lagi Maha Memiliki kekuasaan untuk membalas? وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗ قُلْ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ اَرَادَنِيَ اللّٰهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كٰشِفٰتُ ضُرِّهٖٓ اَوْ اَرَادَنِيْ بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكٰتُ رَحْمَتِهٖۗ قُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ ۗعَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُوْنَ Wa la'in sa'altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa layaqūlunnallāhu, qul afara'aitum mā tadūna min dūnillāhi in arādaniyallāhu biḍurrin hal hunna kāsyifātu ḍurrihī au arādanī biraḥmatin hal hunna mumsikātu raḥmatihī, qul ḥasbiyallāhu, alaihi yatawakkalul-mutawakkilūna. Sungguh, jika engkau Nabi Muhammad bertanya kepada mereka kaum musyrik Makkah siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Kalau begitu, tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka sesembahan itu mampu menghilangkan bencana itu atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah sebagai pelindung bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri.” قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ اِنِّيْ عَامِلٌ ۚفَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ Qul yā qaumimalū alā makānatikum innī āmilun, fa saufa talamūna. Katakanlah, “Wahai kaumku, berbuatlah menurut kedudukanmu! Sesungguhnya aku pun berbuat demikian. Kelak kamu akan mengetahui مَنْ يَّأْتِيْهِ عَذَابٌ يُّخْزِيْهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيْمٌ May ya'tīhi ażābuy yukhzīhi wa yaḥillu alaihi ażābum muqīmun. siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” اِنَّآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّۚ فَمَنِ اهْتَدٰى فَلِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚوَمَآ اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيْلٍ ࣖ Innā anzalnā alaikal-kitāba lin-nāsi bil-ḥaqqi, fa manihtadā fa linafsihī, wa man ḍalla fa innamā yaḍillu alaihā, wa mā anta alaihim biwakīlin. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Nabi Muhammad Kitab Al-Qur’an untuk seluruh manusia dengan hak. Siapa yang mendapat petunjuk, petunjuk itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat, sesungguhnya kesesatan itu untuk dirinya sendiri. Engkau bukanlah penanggung jawab mereka. اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ Allāhu yatawaffal-anfusa ḥīna mautihā wal-latī lam tamut fī manāmihā, fayumsikul-latī qaḍā alaihal-mauta wa yursilul-ukhrā ilā ajalim musammān, inna fī żālika la'āyātil liqaumiy yatafakkarūna. Allah menggenggam nyawa manusia pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. اَمِ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ شُفَعَاۤءَۗ قُلْ اَوَلَوْ كَانُوْا لَا يَمْلِكُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَعْقِلُوْنَ Amittakhażū min dūnillāhi syufaā'a, qul awalau kānū lā yamlikūna syai'aw wa lā yaqilūna. Apakah mereka juga menjadikan penolong selain Allah? Katakanlah, “Apakah kamu menjadikannya penolong juga meskipun mereka tidak memiliki suatu apa pun dan tidak mengerti?” قُلْ لِّلّٰهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا ۗ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ Qul lillāhisy-syafāatu jamīān, lahū mulkus-samāwāti wal-arḍi, ṡumma ilaihi turjaūna. Katakanlah Nabi Muhammad, “Hanya milik Allah pertolongan itu semuanya. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian, hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ Wa iżā żukirallāhu waḥdahusyma'azzat qulūbul-lażīna lā yu'minūna bil-ākhirahti, wa iżā żukiral-lażīna min dūnihī iżā hum yastabsyirūna. Apabila hanya nama Allah yang disebut, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat kesal. Namun, apabila nama-nama sembahan selain Allah disebut, tiba-tiba mereka bergembira. قُلِ اللّٰهُمَّ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ عٰلِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ اَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْ مَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ Qulillāhumma fāṭiras-samāwāti wal-arḍi ālimal-gaibi wasy-syahādati anta taḥkumu baina ibādika fīmā kānū fīhi yakhtalifūna. Katakanlah, “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala yang gaib dan nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu apa yang selalu mereka perselisihkan.” وَلَوْ اَنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لَافْتَدَوْا بِهٖ مِنْ سُوْۤءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ وَبَدَا لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مَا لَمْ يَكُوْنُوْا يَحْتَسِبُوْنَ Wa lau anna lil-lażīna ẓalamū mā fil-arḍi jamīaw wa miṡlahū maahū laftadau bihī min sū'il-ażābi yaumal-qiyāmahti, wa badā lahum minallāhi mā lam yakūnū yaḥtasibūna. Sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai segala apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari azab yang buruk pada hari Kiamat. Tampak jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. وَبَدَا لَهُمْ سَيِّاٰتُ مَا كَسَبُوْا وَحَاقَ بِهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ Wa badā lahum sayyi'ātu mā kasabū wa ḥāqa bihim mā kānū bihī yastahzi'ūna. Tampak jelaslah bagi mereka keburukan-keburukan yang mereka kerjakan di dunia dan mereka diliputi oleh azab yang selalu mereka olok-olokkan. فَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَاۖ ثُمَّ اِذَا خَوَّلْنٰهُ نِعْمَةً مِّنَّاۙ قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ ۗبَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ Fa'iżā massal-insāna ḍurrun daānā ṡumma iżā khawwalnāhu nimatam minnā, qāla innamā ūtītuhū alā ilmin, bal hiya fitnatuw wa lākinna akṡarahum lā yalamūna. Apabila ditimpa bencana, manusia menyeru Kami. Kemudian, apabila Kami memberikan nikmat sebagai anugerah Kami kepadanya, dia berkata, “Sesungguhnya aku diberikan nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui-nya. قَدْ قَالَهَا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَآ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ Qad qālahal-lażīna min qablihim famā agnā anhum mā kānū yaksibūna. Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mengatakan hal itu. Maka, tidak berguna lagi bagi mereka apa yang selalu mereka usahakan. فَاَصَابَهُمْ سَيِّاٰتُ مَا كَسَبُوْا ۗوَالَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْ هٰٓؤُلَاۤءِ سَيُصِيْبُهُمْ سَيِّاٰتُ مَا كَسَبُوْا ۙوَمَا هُمْ بِمُعْجِزِيْنَ Fa'aṣābahum sayyi'ātu mā kasabū, wal-lażīna ẓalamū min hā'ulā'i sayuṣībuhum sayyi'ātu mā kasabū, wa mā hum bimujizīna. Lalu, mereka ditimpa bencana akibat keburukan-keburukan yang mereka perbuat. Orang-orang yang zalim di antara mereka juga akan ditimpa bencana akibat keburukan-keburukan yang mereka perbuat dan tidak dapat melepaskan diri darinya. اَوَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ Awalam yalamū annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā'u wa yaqdiru, inna fī żālika la'āyātil liqaumiy yu'minūna. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. ۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Qul yā ibādiyal-lażīna asrafū alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāhi, innallāha yagfiruż-żunūba jamīān, innahū huwal-gafūrur-raḥīmu. Katakanlah Nabi Muhammad, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas dengan menzalimi dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. وَاَنِيْبُوْٓا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ Wa anībū ilā rabbikum wa aslimū lahū min qabli ay ya'tiyakumul-ażābu ṡumma lā tunṣarūna. Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong. وَاتَّبِعُوْٓا اَحْسَنَ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَّاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ ۙ Wattabiū aḥsana mā unzila ilaikum mir rabbikum min qabli ay ya'tiyakumul ażābu bagtataw wa antum lā tasyurūna. Ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Al-Qur’an sebelum azab datang kepadamu secara mendadak, sedangkan kamu tidak menyadarinya. اَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يّٰحَسْرَتٰى عَلٰى مَا فَرَّطْتُّ فِيْ جَنْۢبِ اللّٰهِ وَاِنْ كُنْتُ لَمِنَ السّٰخِرِيْنَۙ An taqūla yā ḥasratā alā mā farraṭṭu fī jambillāhi wa in kuntu laminas-sākhirīna. Maksudnya, supaya tidak ada orang yang berkata, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah dan sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah.” اَوْ تَقُوْلَ لَوْ اَنَّ اللّٰهَ هَدٰىنِيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ۙ Au taqūla lau annallāha hadānī lakuntu minal-muttaqīna. Atau, supaya tidak ada yang berkata, “Seandainya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” اَوْ تَقُوْلَ حِيْنَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ اَنَّ لِيْ كَرَّةً فَاَكُوْنَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ Au taqūla ḥīna taral-ażāba lau anna lī karratan fa akūna minal-muḥsinīna. Atau, supaya tidak ada pula yang berkata ketika melihat azab, “Seandainya aku dapat kembali ke dunia, tentu aku termasuk orang-orang yang muhsin.” بَلٰى قَدْ جَاۤءَتْكَ اٰيٰتِيْ فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ Balā qad jā'atka āyātī fa każżabta bihā wastakbarta wa kunta minal-kāfirīna. Tidak begitu! Sebenarnya ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu, tetapi kamu mendustakannya, menyombongkan diri, dan termasuk orang-orang kafir. وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ تَرَى الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلَى اللّٰهِ وُجُوْهُهُمْ مُّسْوَدَّةٌ ۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْمُتَكَبِّرِيْنَ Wa yaumal-qiyāmati taral-lażīna każabū alallāhi wujūhuhum muswaddahtun, alaisa fī jahannama maṡwal lil-mutakabbirīna. Pada hari Kiamat, engkau akan melihat bahwa orang-orang yang berdusta kepada Allah wajahnya menghitam. Bukankah neraka Jahanam itu tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur? وَيُنَجِّى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْۖ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوْۤءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ Wa yunajjillāhul-lażīnattaqau bimafāzatihim, lā yamassuhumus-sū'u wa lā hum yaḥzanūna. Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangannya sehingga mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih. اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙوَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ Allāhu khāliqu kulli syai'in, wa huwa alā kulli syai'iw wakīlun. Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. لَهٗ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ Lahū maqālīdus-samāwāti wal-arḍi, wal-lażīna kafarū bi'āyātillāhi ulā'ika humul-khāsirūna. Milik-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan langit dan bumi. Orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang rugi. قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْۤنِّيْٓ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰهِلُوْنَ Qul afagairallāhi ta'murūnnī abudu ayyuhal-jāhilūna. Katakanlah Nabi Muhammad, “Apakah kamu menyuruhku untuk menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?” وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ Wa laqad ūḥiya ilaika wa ilal-lażīna min qablika, la'in asyrakta layaḥbaṭanna amaluka wa latakūnanna minal-khāsirīna. Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang para nabi sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. بَلِ اللّٰهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ Balillāha fabud wa kum minasy-syākirīna. Oleh karena itu, sembahlah Allah saja dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ Wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrihī, wal-arḍu jamīan qabḍatuhū yaumal-qiyāmati was-samāwātu maṭwiyyātum biyamīnihī, subḥānahū wa taālā ammā yusyrikūna. Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Padahal, bumi seluruhnya ada dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ Wa nufikha fiṣ-ṣūri faṣaiqa man fis-samāwāti wa man fil-arḍi illā man syā'allāhu, ṡumma nufikha fīhi ukhrā fa'iżā hum qiyāmuy yanẓurūna. Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun dari kuburnya dan menunggu keputusan Allah. وَاَشْرَقَتِ الْاَرْضُ بِنُوْرِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتٰبُ وَجِايْۤءَ بِالنَّبِيّٖنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ Wa asyraqatil-arḍu binūri rabbihā wa wuḍial-kitābu wa jī'a bin-nabiyyīna wasy-syuhadā'i wa quḍiya bainahum bil-ḥaqqi wa hum lā yuẓlamūna. Bumi padang Mahsyar menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhannya, buku catatan amal diberikan kepada setiap orang, para nabi dan para saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil dan mereka tidak dizalimi. وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُوْنَ ࣖ Wa wuffiyat kullu nafsim mā amilat wa huwa alamu bimā yafalūna. Setiap jiwa diberi balasan dengan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan Dia paling tahu tentang apa yang mereka lakukan. وَسِيْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَتْلُوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۗقَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ Wasīqal-lażīna kafarū ilā jahannama zumarān, ḥattā iżā jā'ūhā futiḥat abwābuhā wa qāla lahum khazanatuhā alam ya'tikum rusulum minkum yatlūna alaikum āyāti rabbikum wa yunżirūnakum liqā'a yaumikum hāżā, qālū balā wa lākin ḥaqqat kalimatul-ażābi alal-kāfirīna. Orang-orang yang kufur digiring ke neraka Jahanam secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana, pintu-pintunya dibuka dan para penjaganya berkata kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu pertemuan dengan harimu ini?” Mereka menjawab, “Benar, telah datang para rasul.” Akan tetapi, ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir. قِيْلَ ادْخُلُوْٓا اَبْوَابَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚفَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ Qīladkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa bi'sa maṡwal-mutakabūbirīna. Dikatakan kepada mereka, “Masuklah pintu-pintu neraka Jahanam untuk tinggal di dalamnya selama-lamanya!” Maka, neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur. وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ Wasīqal-lażīnattaqau rabbahum ilal-jannati zumarān, ḥattā iżā jā'ūhā wa futiḥat abwābuhā wa qāla lahum khazanatuhā salāmun alaikum ṭibtum fadkhulūhā khālidīna. Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka, “Salāmun alaikum semoga keselamatan tercurah kepadamu, berbahagialah kamu. Maka, masuklah ke dalamnya untuk tinggal selama-lamanya!” وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَوْرَثَنَا الْاَرْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاۤءُ ۚفَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ Wa qālul-ḥamdu lillāhil-lażī ṣadaqanā wadahū wa auraṡanal-arḍa natabawwa'u minal-jannati ḥaiṡu nasyā'u, fanima ajrul-āmilīna. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya dan mewariskan bumi di akhirat ini kepada kami sehingga dapat menempati surga sesuai dengan kehendak kami.” Surga adalah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal saleh. وَتَرَى الْمَلٰۤىِٕكَةَ حَاۤفِّيْنَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْۚ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيْلَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ Wa taral-malā'ikata ḥāffīna min ḥaulil-arsyi yusabbiḥūna biḥamdi rabbihim, wa quḍiya bainahum bil-ḥaqqi wa qīlal-ḥamdu lillāhi rabbil-ālamīna. Engkau Nabi Muhammad akan melihat malaikat melingkar di sekeliling ʻArasy. Mereka bertasbih sambil memuji Tuhannya. Urusan di antara mereka seluruh makhluk diputuskan dengan hak adil. Ketika itu dikatakan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”